Tulisan ini bukan berisi pembahasan serius penuh konflik tentang pro kontra poligami dan monogami.
Seperti biasa, saya senang mencari tahu ke sana ke mari. Tentang apa? Apa saja yang menarik. Dan ketika mencari-cari informasi tentang si Pingu, ada link menarik untuk ditelusuri. Si Pingu ternyata dulu pernah disinggung sedikit di Gurdian mengenai perkawinannya yang monogami
Nggak nyangka deh.
Setelah baca artikel itu, jadi teringat film dokumenter The Battle of The Sexes vol.2. Di sana ada cerita tentang si Burung Kecil yang poligami, yang meninggalkan istri ke-2 beserta anak-anaknya hingga si anak mati kelaparan. Si Jantan hanya mengurusi keluarga pertamanya. Mungkin karena film maker-nya westerner yang anti poligami, disinggung deh jeleknya poligami. Setelah itu, ditampilkan jenis burung lain. Fokusnya burung betina yang berhasil ‘memperdayai suaminya’ untuk mengurus anak-anaknya dan terbang jauh meninggalkan rumah si suami.
Si Pinguin Emperor memang ok banget jadi orang tua. Tapi tidak menjamin di tahun depan dia masih dengan istri pertama. Tapi tetap jika menjadi ayah dia penuh dengan tanggung jawab.
Bagaimana dengan si Burung Kecil yang punya istri 2? Nah itu dia… menurut saya perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Para ilmuwan sepertinya belum meneliti kemungkinan istri keduanya itu cerewet dan banyak menuntut, maka dia balik ke istri pertama. Dan perlu di catat, si Burung Kecil itu juga gak jahat-jahat amat, karena sebelum kawin, istri kedua sudah disediakan rumah.
Bagaimana dengan si Burung Betina yang meninggalkan anaknya, dengan trik yang ok punya, sehingga suaminya yang mengurus anak mereka? Menurut saya ada 2 kemungkinan. Pertama si Betina ini memang punya kepribadian ’selebriti’ – senang gonti-ganti pasangan, tidak terlalu memikirkan anak-anaknya. Kemungkinan kedua, suaminya agak B.O.D.O atau yah… kurang jantan kali ya…
Anyway… pesan moralnya adalah: Benarlah bahwa manusia itu mahluk mulia, tapi ia bisa menjadi lebih rendah dari binatang kala berkelakuan keji. Na’udzubillah.


Recent Comments