Archive for August, 2008

31
Aug
08

Renungan di Akhir Sya’ban – awal Ramadhan 1429H

Setahun ini sudah banyak yang saya lewati. Suka, duka, tertawa, menangis, senyum dan marah. Semuanya sudah dirasakan.

Saat ini masa transisi, akhir Sya’ban dan awal Ramadhan.

Berita gembira saya terima, dan berita duka pun saya terima.
Si Kakak akhirnya mendapatkan sekolah, langsung kelas dua elementary. Meskipun dia harus mengejar ketinggalan pelajaran term pertama, menggenjot kemampuan bahasa Inggris dan Arabnya. Dia masih kanak-kanak, saya percaya dia bisa. Semoga Allah melapangkan jalanmu, wahai keponakanku tersayang. Di tempat yang nun jauh di sana, keluarga saya insyaAllah wa alhamdulillah dalam keadaan baik. Paling tidak mereka bertambah gemuk, begitu kabarnya. Sementara saya semakin kurus, karena banyak makan mie? Kata Kakak :)
Sementara dari tempat yang lain saya mendapat kabar sedih. Teman baik saya – si Ayah – sedang sakit. Disusul dengan sakitnya sang bapak mertua. Begitu kabar yang saya terima dari Teteh – istri sang Ayah. Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada mereka. Aamiin.

Memasuki Ramadhan, apa yang ingin saya raih tahun ini?

Bertambahnya kebaikan diri, berkurangnya keburukan. Kedewasaan, kesabaran, kebijakan yang membawa kepada kebaikan. Bertambahnya ketaqwaan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ajal saya semakin dekat. Namun, hingga kini bayangan surga pun belum terlihat. Terhalang kabut dunia. Kabut yang menyimpangkan diri dari jalan yang lurus.


Ya, Allah… Rabb Arsy Yang Agung. Alhamdulillah kuucapkan atas nikmat yang Engkau berikan. Aku memohon, Engkau akan mencabut nyawaku ketika aku dalam keadaan beriman kepada-Mu dan Rasul-Mu. Ijinkan aku meraih surgamu, dengan jalan menjadi seorang istri yang sholihah, dari seorang hambamu yang bertaqwa dan menjadi ibu dari anak-anak yang beriman kepada-Mu dan Rasul-Mu. Kabulkanlah permohonanku ya Allah, Ya Arhama Rahimin. Aamiin.

31
Aug
08

Abaya-abaya Cantik 1

Sudah lama tidak menjahit baju dan kerudung lagi. Selain malas, juga karena baju dan kerudung yang ada masih layak pakai dan cukup jumlahnya. Jadi ya.. tidak perlu menambah koleksi baju dulu. Dari beberapa situs belanja online saya mendapatkan gambar2 abaya. Mungkin suatu saat bisa dipraktekkan. :)

18
Aug
08

Rating TV Lemahkan Perkawinan

Menag: Rating TV Turut Lemahkan Institusi Perkawinan

Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni mengaku prihatin dengan meningkatnya jumlah kasus perselisihan suami-istri yang menjelma menjadi percekcokan hebat yang disebabkan oleh hal yang teramat remeh. Menag menyebut rating televisi turut andil dalam masalah ini.

Menag mengungkapkan banyak faktor yang dapat menjadi penyebab perceraian. Salah satunya adalah disorientasi tujuan suami istri dalam membangun mahligai rumah tangga mereka. ”Faktor lain adalah mengenai kedewasaan yang mencakup intelektualitas, emosionalitas, dan kemampuan suami istri dalam mengelola dan mengatasi pelbagai permasalahan rumah tangga,” katanya.

”Kita khawatirkan terpetik ‘pesan moral’ terselubung, yaitu drama pertengkaran dan perceraian sudah bukan merupakan aib keluarga,” ucapnya. Lambat laun, sambungnya, hal ini menggeser norma dan cara pandang masyarakat terhadap institusi perkawinan ke arah yang negatif. Yaitu perkawinan bukan suatu lembaga yang seharusnya dipertahankan keutuhannya.

Tentang TV. Beberapa waktu lalu ada hari tanpa TV, ada protes mengenai acara-acara TV oleh masyarakat, ada peringatan terhadap acara TV yang dianggap “berbahaya” utamanya untuk anak, dll.

Masalah acara TV di Indonesia – yang tidak mendidik – bukan masalah baru, karena jaman baheula dulu saya sudah menjadikannya sebagai bahasan ilmiah dalam tugas akhir di SMA. Saya tidak heran jika sekarang ini acara TV semakin ngawur, tidak mendidik dan memberikan dampak negatif pada masyarakat. Sunatullah mengatakan bahwa semakin lama manusia semakin buruk perilakunya.

Mengenai dampak negatif acara TV terhadap institusi perkawinan, menurut saya tidak bisa menyalahkan 100% pihak TV. Bagaimana pun TV adalah media komunikasi yang digunakan para pengusaha. Dan TV itu sendiri juga sudah menjadi sebuah industri. Jika kita bicara pengusaha, bicara tentang industri, maka kita bicara tentang uang dan uang. It’s all about money.
Pihak pemirsa menurut saya perlu membekali dirinya dengan kearifan dan kebijaksanaan. Mereka seharusnya menyadari bahwa apa yang disaksikan di TV, merupakan sebuah tampilan yang sarat dengan rekayasa. Tampilan yang belum tentu sesuai dengan norma agama, dan kepatutan lainya.

Sudah saatnya saya kira, masyarakat menjadi lebih cerdas, lebih dewasa, lebih arif dan bijaksana dalam menilai dan memahami lingkungannya. Sadarilah bahwa yang mempunyai ‘otak’ adalah dirinya, bukan malah menjadikan TV sebagai ‘otak’ yang mengendalikan dirinya.

Berita terkait bisa baca di sini