12
Oct
08

Kucinta Kau Meski Sudah Usang

Perlahan kendaraan angkot yang saya tumpangi melaju melewati rutenya. Berhenti, ada sepasang suami istri separuh baya naik. Si suami menggendong tangan kirinya yang masih di gips. Sambil sesekali tangan kanannya melindungi tangan kirinya. Bisa saya bayangkan betapa sakitnya. Sementara itu saya perhatikan istrinya, senantiasa tersenyum. Sesekali mereka bercengkrama dengan wajah tersenyum. Pasangan yang bahagia sepertinya.

Sejurus ingatan saya merambah masa lalu, ketika kaki kanan ini cedera akibat terjatuh dari anak tangga. Tidak ada yang patah. Hanya ligamen di persendian bawah robek. Sakitnya selama 3 bulan luar biasa. Berjalan hanya bisa selangkah demi selangkah perlahan, sambil menyeret kaki kanan. Jangankan untuk sedikit tegak berdiri, menggeser telapak kaki sekian senti saja nyerinya menjalar sampai ke seluruh tubuh. Dan nyeri itu pun terus berlanjut hingga 1 tahun lebih. Hingga akhirnya, alhamdulillah kaki ini masih bisa berfungsi baik.

Melihat pasangan di atas, saya termenung. Mengira-ngira seberapa besar kesabaran si istri untuk membantu suaminya sehari-hari. Merawat lukanya, mengganti pakaiannya, dan lain-lain. Belum lagi menghadapi sikap suami yang mungkin agak menyebalkan. Dan juga mengatasi rasa kebosanan dari si istri itu sendiri.

Kendaraan melaju terus. Kemudian berhenti. Lagi, sepasang suami istri naik. Usianya lebih muda dari pasangan pertama. Membawa sebuah tas besar dan berat, serta 1 kardus (VCD) berukuran cukup lebar. Repot sekali. Ow ow, ternyata ada kerepotan lain. Sang istri butuh waktu untuk naik, sepasang tongkat kayu agak mempersulitnya. Lumpuh separuh sepertinya. Subhanallah… lebih dari itu! Kakinya buntung sebelah kanan. Meskipun demikian senyum senang karena berhasil naik, tergambar jelas di wajahnya. Si suami masih kerepotan dengan tas besarnya. Kenapa sepertinya sulit sekali memegang dan menggerakkan tangan kanannya. Subhanallah, ternyata tangan kanannya agak cacat. Bengkok dengan jari yang tidak sempurna. Di lengan kanan terlihat bekas luka yang cukup parah. Bekas luka yang lebih kecil juga terlihat di lengan kirinya. Sepertinya mereka pernah mengalami kecelakaan yang cukup parah. Namun demikian mereka tersenyum, ya… mereka tersenyum. Mungkin untuk a simple victory, berhasil naik ke angkot meski dengan susah payah.

Ingatan ini menerawang ke masa lalu… ketika ibundaku masih mendampingi ayah. Sakit berkepanjangan bundaku tidak pernah merintangi kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dan jika saya rindu mama – ibuku – rasanaya sekejap terobati, dengan mendengar ucapan dari ayahku: Tidak ada perempuan sebaik mama mu. Dan sampai saat ini pun ayah masih mengingat dan mencintainya.

… Uhibbuki misla maa antii… Uhibbuki kaifa ma kuntii … I love you the way you are ~ I love you the way you were ~ No matter what did – or will happen ~ You are and will be my darling ~ You are my rightfull wife ~ I care not about those who like reproach and irritate me ~ It is our destiny to be together eternall…


4 Responses to “Kucinta Kau Meski Sudah Usang”


  1. 16 October, 2008 at 1:26 pm

    dija, entri yang menyinggah jiwa telah kamu paparkan. Terima kasih.

    Maaf juga kerana sudah lama tidak menghubungi kamu. Sangat sibuk dengan tugasan yang akhirnya membunuh janji.

    Untuk buku yang saya janjikan, bolehkah kamu berikan semula alamat lengkap, email dan nombor telefon?

  2. 10 November, 2008 at 9:39 pm

    salam

    apa khabar, lama sudah bicara, saya pun semakin sibuk..

    indah sungguh cerita ini.. sekali lagi saya cadangkan, bila lagi ingin menulis buku?

  3. 5 December, 2008 at 8:56 am

    alhamdulillah baik. terima kasih. menjadi penulis? perlu berguru ke tuan prosesor dulu :D

  4. 5 December, 2008 at 9:07 am

    terimakasih juga. dan maaf lama tidak mengurus blog ini. tak tahu jika ada komentar2 masuk. insyaAllah akan saya kirim.


Leave a Reply